Lagi-Lagi Penjualan Properti Stagnan, Adakah Solusinya?

Pernahkan Anda mendengar ungkapan para pengamat maupun pelaku properti lebih kurang seperti ini, “..tahun depan properti akan bangkit..”, “..ini saatnya beli properti, mumpung ada di harga terendah, semester depan akan bangkit dan harga akan naik..”  Setahu saya ungkapan semacam ini sudah beberapa kali diungkap, bahkan sejak tahun 2015.  Tetapi kenyataannya seperti apa?

Melempemnya kinerja penjulan properti masih berlanjut di sepanjang 2018, bahkan sejumlah konsultan properti menyebutkan bahwa pasar properti 2018 merupakan yang terendah sejak tahun 2013 dan diprediksi baru akan mulai merangkak naik di semester II 2019, benarkah?

Kini, memasuki 2020 ternyata para pelaku bisnis properti bisa melihat sendiri apakah sudah bangkit atau stagnasi masih berlangsung?

Alangkah baiknya Anda simak sumbangan pemikiran penulis di link ini tentang apa yang menjadi penyebab penting terkini dan alternatif-alternatif strategi mengembalikan kinerja penjualan bisnis Anda di https://www.salesmarketingbiz.asia/7penyebab-2

#Rangkuman berita Rendahnya Kinerja Penjualan 2018

Mari kita cermati rangkuman berita tentang properti di Tahun 2018 yang bersumber dari media online Kontan berikut:

PT Agung Podomoro Land Tbk,  sepanjang Januari-September 2018 baru berhasil mengantongi penjualan Rp 1,94 triliun atau 39,5% dari target Rp 4,9 triliun tahun 2018. Oleh karena jauh dari target, perusahaan ini kemudian memutuskan merevisi target menjadi Rp 3,5 triliun.

Kemudian PT Intiland Development Tbk yang hingga kuartal III mencapai 1,6 triliun atau 48,4% dari target. Perusahaan ini secara realistis lebih memilih untuk merevisi target dan  memutuskan untuk menunda peluncuran proyek baru di Surabaya yakni Tierra Dharmo Harapan yakni proyek mixed use development di lahan seluas 6 hektare (ha).

Selanjutnya PT Pakuwon Jati Tbk  mencatatkan marketing sales Rp 1,7 triliun atau 65,3% dari target perusahaan Rp 2,6 triliun. Perusahaan ini melihat konsidi pasar tahun ini yang masih lambat disebabkan oleh pengaruh kondisi makro ekonomi seperti fluktuatif nilai tukar yang cukup tinggi dan adanya perang dagang global. Tahun 2018 ini grup ini mengandalkan inventory atau belum membangun lagi

Sementara itu PT Summarecon Agung Tbk masih yakin dan berjuang mencapai target Rp 4 triliun meskipun per Oktober mereka baru mencatatkan marketing sales Rp 2,4 triliun. Perusahaan ini masih bisa mengharapkan penjualan dari peluncuran proyek baru bertajuk Summarecon Mutiara di Makassar yang dirilis pada 30 November 2018 lalu dan peluncuran produk-produk baru di kawasan eksisting mereka lainnya.  Peluncuran proyek baru di Makasaar tersebut, SMRA telah berhasil mengantongi penjualan Rp 200 miliar dalam empat jam saja.

PT Bumi Serpong Damai Tbk berhasil merealisasi 75% target marketing salesnya sebesar Rp 7,2 triliun dalam sembilan bulan ini atau senilai Rp 5,4 triliun. PT Alam Sutera Tbk (ASRI) meraup Rp 3,62 triliun atau 90,5% dari target Rp 4 triliun sepanjang Januari-September.

PT PP Properti Tbk mengantongi Rp 3,1 triliun atau 81,5% dalam sembilan bulan yang ditopang oleh penjualan borongan atau bulk sales.

Developer lain yakni PT Ciputra Development Tbk baru berhasil mengantongi marketing sales Rp 5,15 triliun hingga kuartal III atau 66,8% dari target perusahaan sebesar Rp 7,7 triliun. Semuanya masih didapatkan dari proyek-proyek eksisiting karena perusahaan belum bisa merealisasi peluncuran proyek baru.

#Bagaimana Solusinya?

Dengan kinerja penjualan yang melempem tersebut, departemen atau direktorat pemasaran menjadi pihak yang paling berat memikul beban ini. Mereka tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan atas masalah ini jika melihat kondisi makro ekonomi dan tekanan global yang masih terasa hingga saat ini.

Namun demikian, direktorat/departemen pemasaran tetaplah harus menemukan solusinya. Klik disini untuk mendapat solusi inspiratif atas masalah ini

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*